Strategi Di Balik Sukses Perusahaan Retail Kelas Dunia

Carrefour, namanya begitu mudah dikenal. Sepak terjang raksasa retail asal Prancis ini kerap mencemaskan para pesaingnya.Dalam tempo cepat, Carrefour sudah menjadi alternatif belanja pilihan bagi keluarga, khususnya di kota-kota besar.

Bahkan, 84 gerai Carrefour telah hadir di lebih dari60 lokasi yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Semarang, Medan, Palembang dan Makasar.

Siapa sosok dibalik sepak terjang Carrefour yang mewarnai bisnis retail di Indonesia?

Dialah Shafie Shamsuddin. Terlepas dari konteks pro dan kontra soal aksi Carrefour di negeri ini, Shafie dikenal sebagai sosok yang melekat erat di balik kesuksesan Carrefour di Asia Tenggara, tak terkecuali Indonesia.

Kisah sepak terjang dan strategi bisnis Careffour diceritakannya dalam CEO Speak di Kampus Universitas Bina Nusantara, Jakarta beberapa hari lalu.

Shafie kini menjabat sebagai Kepala Eksekutif Korporat (CEO) Carrefour Indonesia yang membawahi 11 ribu karyawan. Warga Singapura ini adalah orang Asia pertama yang menempati posisi puncak di perusahaan retail kelas dunia tersebut.

Baru-baru ini, ia turut berperan dalam aksi mengejutkan terkait langkah Carrefour menggandeng taipan kaya Indonesia, Chairul Tanjung sebagai salah satu pemegang saham utama Carrefour Indonesia. Chairul adalah pengendali Trans Corp yang bergerak di bidang retail, hiburan, keuangan dan properti.

“Trans Corp juga mempunyai visi strategis di bidang ritel dan bisnis yang mempunyai sinergi potensial serta signifikan dengan Carrefour,” ujar Shafie Shamsuddin beberapa waktu lalu.

Karirnya bermula pada 1996 dari posisi Management Trainee (Operations and Buying Department) selepas kuliah di Nanyang Technological University (NTU) Singapura jurusan bisnis. Tidak sampai setahun bekerja, ia ditugaskan ke Prancis untuk studi banding. Perusahaan memberi kesempatan atas kesungguhan dan hasil kerja keras yang tak mengenal lelah.

Selepas Management Trainee, karir Shafie terus meroket. Pangkatnya naik hampir tiap tahun jadi Assistant Department Head, Department Head (Oktober, 1997), Senior Department Head, sampai Division Manager for Commercial and Merchandising. Jabatan terakhir dilakoninya selama dua tahun (2000-2002).

Pada Februari 2002, Shafie ditugaskan ke Carrefour Indonesia untuk menjadi Bazaar Merchandise Manager. Setahun kemudian, dia kembali ditempatkan di Singapura untuk menjabat Store Director in Operations, Marketing and Human Resource. Di situ dia memiliki kesempatan untuk mempelajari strategi pemasaran sampai human resources.

Tahun 2005 dia diberi kepercayaan menjadi Managing Director Carrefour Malaysia/Singapura. Hingga akhirnya satu tahun kemudian, dia dipercaya naik jabatan jadi Executive Director and Managing Director di Malaysia/Singapura.

Kemudian, pada 1 Agustus 2009, dia dipercaya memimpin Carrefour Indonesia, dengan jumlah 84 cabang yang tersebar 4 pulau besar (Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera). Ini adalah jabatan keduanya sebagai Presiden Direktur di Carrefour.

Carrefour Indonesia memulai sejarahnya di Indonesia pada Oktober 1998 dengan membuka unit pertama di Cempaka Putih. Pada saat yang sama, Continent, juga sebuah paserba dari Prancis, membuka unit pertamanya di Pasar Festival.

Pada penghujung 1999, Carrefour dan Promodes (Induk perusahaan Continent) sepakat untuk melakukan penggabungan atas semua usahanya di seluruh dunia. Penggabungan ini membentuk suatu grup usaha ritel terbesar kedua di dunia dengan memakai nama Carrefour.

Pada Januari 2008, Carrefour Indonesia menyelesaikan proses akuisisi terhadap PT Alfa Retailindo Tbk. Konsep paserba merupakan konsep perdagangan eceran yang diciptakan oleh Carrefour yang dirancang untuk memuaskan para konsumen.

Sebelumnya, pembelian 40 persen saham PT Carrefour Indonesia oleh Trans Corp akan menjadikan kelompok usaha Para Group itu menjadi pemegang saham tunggal terbesar.

Sedangkan pemegang saham lainnya adalah Carrefour SA sebesar 39 persen, Carrefour Nederland BV (9,5 persen), dan Onesia BV (11,5 persen).

Carrefour adalah perusahaan 25 besar Fortune Global 500. Selanjutnya Trans Corp akan menjadi rekanan aktif operasi Carrefour di Indonesia.

“Inisiatif awal memang dari kami (Carrefour), karena ingin mencari mitra lokal yang memiliki tata kelola perusahaan yang baik dan visi yang sama,” kata Direktur Corporate Affairs Carrefour Indonesia Irawan D Kadarman di Jakarta.

Menurut dia, dengan Para Group yang memiliki bisnis di bidang media, lifestyle, ritel, serta entertainment, Carrefour melakukan kerja sama strategis guna mendorong pertumbuhan dan penyediaan akses bagi seluruh konsumen di Indonesia terhadap produk-produk berkualitas dengan harga yang terjangkau.

Melalui penguasaan 40 persen saham di Carrefour, Trans Corp akan menempatkan Chairul Tanjung, pendiri Para Group, sebagai komisaris utama Carrefour Indonesia.

Sedangkan AM Hendropriyono dan mantan Kepala Kepolisian RI S Bimantoro sebagai Komisaris.

Saat ini, Carrefour merupakan retailer terbesar di Indonesia dan mempunyai pengaruh besar terhadap distribusi barang dan komoditas di dalam negeri.

Pemasok Carrefour bervariasi mulai dari perusahaan besar, kecil, dan menengah, petani, peternak, kelompok nelayan, dan lain.

“Saya ingin memastikan bahwa sembako (sembilan bahan pokok) dijual dengan harga terbaik di Carrefour,” ujar Chairul Tanjung.

Menurut Chairul, akuisisi dapat membangkitkan semangat perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk terus tumbuh menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Melalui kerja sama itu, Trans Corp akan menerapkan kekuatannya dalam inovasi, operasi, dan pengetahuan mengenai pasar lokal untuk bekerja sama dengan Carrefour dalam menyediakan kebutuhan-kebutuhan khas dari konsumen di Indonesia.

Kerja sama itu nantinya juga akan mengombinasikan gerai Carrefour dengan kelompok usaha Para Group dalam bidang pelayanan finansial dan gaya hidup (lifestyle-fashion), makanan dan minuman (food & beverage), dan travel.

“Trans Corp juga mempunyai visi strategis di bidang ritel dan bisnis yang mempunyai sinergi potensial serta signifikan dengan Carrefour,” ujar Shafie Shamsuddin, direktur utama Carrefour Indonesia.

Selain itu, PT Carrefour Indonesia (PTCI) juga menggelar bazar dan pojok rakyat melibatkan ratusan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Shafie Shamsuddin, Presiden Direktur PTCI, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk nyata perusahaan ritel tersebut dengan UMKM untuk tumbuh dan berkembang bersama, khususnya di sektor riil.

Bazar dan pojok rakyat  merupakan salah satu realisasi dari bagian program pengembangan UMKM dari PTCI. Oleh karena itu membuat konsep program pengembangan UMKM dengan membagi tiga kategori.

Kategori pertama adalah nonpemasok, kedua yang berpotensi menjadi pemasok, dan ketiga adalah pemasok. Bagi UMKM nonpemasok, Carrefour melakukan bantuan program keuangan, terutama bagi usaha mikro.

Produk yang berpoternsi masuk ke jaringan Carrefour dari kelompok ini adalah berbasis komunitas. Bagi pemasok yang sudah bergabung dengan perusahaan ritel itu, programnya melalui sentra UMKM.

Kemudian, ketiga hal yang disentuh oleh PTCI diimplementasikan ke dalam empat inisiatif, yakni program peningkatan kapasitas, dukungan promosi, akses pasar dan evaluasi berkesinambungan. Bazar dan pojok rakyat merupakan inisiatif dukungan promosi dan akses pasar.

Bazar melibatkan 140 pengusaha UMKM yang merupakan binaan Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perdagangan melalui Pusat Fagang Kecil Menengah (PDKM), Asosiasi Pelaku Usaha Indonesia (APINDO), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), pedagang kaki lima (PKL) yang berada dalam radius 1 km dari gerai, dan mitra UMKM binaan Carrefour.

Saat ini Carrefour Indonesia mengoperasikan 79 gerai (63 hypermarket, 16 supermarket) di 22 kota.  Di tahun 2009 Carrefour Indonesia memperoleh nilai penjualan sebesar Rp 11.7 triliun.  Perusahaan ini mempunyai  12.000 karyawan dan bekerjasama dengan ribuan supplier, termasuk banyak perusahaan menengah ke bawah (small medium enterprise).  Dalam  wacana kedepan, Carrefour akan membuka 13 gerai baru di tahun 2010. Para Group sampai dengan saat ini telah mempekerjakan lebih dari  50.000 orang di Indonesia.

Bisnis ritel untuk kelas hipermarket masih berpotensi berkembang. Tercatat hanya ada beberapa pemain besar di Indonesia, yakni Carrefour, Giant, dan Matahari. Sejarah baru saja tergores pada bisnis ritel di Indonesia. Hal itu terjadi ketika Trans Corp, kelompok usaha yang didirikan pengusaha Chairul Tanjung, secara resmi membeli 40 persen saham PT Carrefour Indonesia, anak usaha Carrefour SA, senilai 300 juta dollar AS atau sekitar 3 triliun rupiah.

Aksi korporasi itu menjadikan Trans Corp sebagai pemegang saham terbesar Carrefour Indonesia. Pemegang saham lain adalah Carrefour SA 39 persen, Carrefour Nederland BV 9,5 persen, dan Onesia BV 11,5 persen. “Saya berharap dengan akuisisi yang dilakukan dapat membangkitkan semangat perusahaan Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri dan menjadi kebanggaan bangsa,” kata Chairul Tanjung, ketika itu.

Selain munculnya tentakel baru dalam gurita bisnis Chairul Tanjung, aksi tersebut tentunya menjadi sorotan karena Carrefour saat ini merupakan peritel terbesar di Indonesia. Apalagi, sejak datang ke Indonesia 12 tahun lalu, Carrefour telah membuat gentar bisnis ritel di Indonesia secara keseluruhan. CEO PT Carrefour Indonesia, Shafie Shamsuddin, menuturkan akuisisi tersebut akan memperkuat kedua belah pihak. “Para Group memiliki beberapa unit usaha yang dapat dihubungkan dengan Carrefour sehingga saling melengkapi,” terangnya.

Ada beberapa hal yang perlu dicatat atas manuver bisnis Para Group tersebut. Pertama, ritel modern menjadi ladang besar sekali yang berprospek sangat menarik. Kedua, berkiprahnya Chairul Tanjung ke ritel menunjukkan indikasi bagus sekali dalam negeri. Ini berarti ada kemauan untuk memberikan sumbangsih bagi kemajuan ritel kita dan tentunya akan membawa arahan baru di industri ritel.

Perusahaan ritel PT Matahari Putra Prima Tbk tak terpengaruh dengan aksi Carrefour tersebut. Matahari akan tetap fokus mengelola bisnis ritel kelas hipermarket setelah melepas kepemilikan saham pada PT Mata-hari Departemen Store Tbk sebesar 7,2 triliun rupiah.

Presiden Direktur PT Matahari Putra Prima Tbk Benjamin Mailol mengatakan perseroan berencana menambah 10 gerai baru Hypermart dalam satu setengah tahun ke depan. “Dari dana penjualan PT Matahari Departemen Store sebesar 900 miliar a-kan digunakan untuk pengembangan bisnis ritel. Minimun 10 gerai per tahun, jadi kita memang akan cukup ekspansif,” ujarnya.

Sementara itu, perusahaan ritel PT Hero Supermarket Tbk juga tak khawatir dengan aksi Para Group karena tahun ini telah berencana melakukan ekspansi dengan sengaja tidak membagikan dividen.

Presiden Direktur Hero Supermarket Tbk John Callaghan mengatakan Hero, pada Agustus dan September 2010, akan mengeluarkan model baru di seluruh Indonesia dengan kebutuhan dana untuk masing-masinggerai rata-rata 500 ribu dollar AS. “Perseroan juga akan menambah satu gerai di Hypermarket Giant CBD Bintaro dengan investasi 20 juta dollar AS,” tambahnya.

Hero saat ini memiliki 467 gerai, di antaranya 35 gerai Giant Hypermart, 50 gerai Hero Supermarket, 63 gerai Giant Supermarket, 195 gerai kesehatan dan kecantikan Guardian, dan 124 gerai Starmart Minimarket dan jumlah karyawan mencapai 12.700 orang.

Hipermarket Lotte Mart juga akan segera beroperasi pada pertengahan tahun ini. Peritel asal Korea Selatan tersebut telah melakukan pergantian merek dagang pusat perkulakan Makro menjadi Lotte Mart Wholesale.

Manajer Hubungan Industrial PT Lotte Shopping Indonesia Basuki Ismael mengatakan format pusat perkulakan yang telah diusung Makro sejak 1992 tetap dipertahankan, mengingat masih ada pembeli potensial dari gerai yang menjual produk secara gro-sir dan mensyaratkan kepemilikan kartu anggota saat melakukan transaksi pembelian. “Lone siap berkompetisi dengan merek hipermarket lain di Indonesia, yaitu Carrefour, Hypermart, dan Giant,” ucapnya.

Nuansa Domestik

Ekonom Riset Dana Reksa Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan masuknya Trans Corp, kelompok usaha milik pengusaha Chairul Tanjung yang memiliki 40 persen saham PT Carrefour Indonesia, membuat persaingan ritel akan semakin ramai. “Nuansa domestik di Carrefour akan semakin kuat, dan saya melihat persaingan untuk jangka panjang akan semakin berimbang,” ujarnya.

Menurut Yudhi, dahulunya Carrefour ritel yang terlalu superior karena perseroan dipegang oleh orang asing yang tentu manajemen dan kebijakannya berasal dari asing. “Namun, de-ngan masuknya Trans Crop tentu akan lain karena ada warna lokalnya di situ,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Benjamin Mailool, bisnis ritel untuk kelas hipermarket masih berpotensi berkembang. Apalagi tidak banyak pemain untuk kelas ini di Indonesia. Tercatat hanya ada beberapa pemain besar di Indonesia, seperti Carrefour, Giant, dan Matahari.

Kemungkinan kompetisi dengan peritel asing yang akan masuk pasar domestik, menurutnya, tidaklah terlalu mengkhawatirkan karena tidak gampang untuk membangun bisnis ritel dari awal.

“Penghambatnya cukup besar, ladi jika mau masuk dan memulai dari awal tentu perjalanan akan panjang dan sangat sulit. Kalau ada pemain baru yang masuk, skemanya paling joint venture, merger, atau akuisisi,” jelasnya.

Sumber : http://www.suaramedia.com

4 thoughts on “Strategi Di Balik Sukses Perusahaan Retail Kelas Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s