Kesuksesan Menjadi Seorang Telemarketing

Bagi banyak orang, mendapatkan pekerjaan di bidang telesales mungkin bisa menjadi sebuah pengalaman yang paling menyengsarakan dalam hidup. Tapi tidak bagi Karen Darby, bekerja di bagian telesales merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga untuknya.

‘Aku menyukainya,’ katanya. ‘Aku sama sekali tidak merasakan itu sebagai sebuah beban. Aku hampir tidak percaya bahwa aku akan dibayar untuk berbicara dengan orang-orang melalui telephone. Rasanya seperti mendapatkan uang untuk melakukan sesuatu yang sangat mudah dan menyenangkan.’

Darby adalah anak keempat dari lima bersaudara. Dia dibesarkan di Mitcham, Surrey, oleh seorang ayah yang seringkali menganggur dan seorang ibu yang bekerja paruh waktu sebagai pelayan.

‘Aku selalu mencari cara untuk menghasilkan uang karena kami bukanlah orang kaya,’ katanya. ‘Saat masih sekolah, aku bekerja di sebuah toko ikan dan tempat cucian, menjual koran, menelusuri jalan untuk mencari botol-botol bekas dan menjualnya ke toko-toko. Saat itu, aku punya empat macam pekerjaan sekaligus.’

Saat berusia 16 tahun, Darby meninggalkan sekolah dan mulai bekerja di pabrik. Tapi dia sangat tidak menyukainya sehingga setelah dua bulan dia meninggalkan pekerjaan tersebut untuk mencari pekerjaan lain. ‘Aku sudah tidak tahan,’ katanya. ‘Pengalaman itu memberi ku pelajaran yang sangat berharga, yaitu, jangan pernah bekerja untuk dibayar perpaket.’

Kemudian dia mendapat pekerjaan di bagian telesales yang menjual space iklan dari sebuah surat kabar dan ternyata dia menyukainya. Setelah dua tahun, dia pindah ke Capital Radio, kemudian pindah lagi untuk bekerja di sebuah agent penjualan iklan.

Kemudian, ditahun 1983, diusianya yang ke 22, dia dan seorang rekannya memutuskan untuk membuka call centre mereka sendiri, dengan modal awal sebesar £30,000 yang mereka dapat dari seorang investor.

‘Orang-orang mengatakan bahwa aku terlalu berani tapi aku tidak memandangnya seperti itu,’ katanya. ‘Aku tidak rugi apa-apa.’ Dia membuka sebuah call centre di sebuah toko di Norbury, South London.

‘Aku menghubungi direktur marketing dari perusahaan-perusahaan besar dan mengundang mereka agar mau mendatangi kantor kami untuk melihat apa yang bisa dilakukan oleh telemarketing untuk merek mereka,’ katanya. ‘Kami menjual berbagai jenis produk, mulai dari kacang goreng sampai komputer.’

Setelah tujuh tahun, perusahannya mempunyai 200 orang staff dengan penjualan yang mencapai £4 juta. Tapi saat itu Darby sedang mengandung anak keduanya dan memutuskan bahwa sudah saat itu waktunya bagi dia untuk melakukan sesuatu yang berbeda.

‘Saat itu, aku sudah sampai pada tahap dimana aku sudah siap untuk sebuah perubahan,’ katanya.

Dia menjual sahamnya dengan harga £1,6 juta, tapi tidak lama setelah itu sang pembeli mengalami kebangkrutan sehingga Darby hanya mendapat £500,000. Dia mempunyai philosophynya sendiri mengenai kerugian ini. ‘Jika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, aku merasa bahwa pasti selalu ada alasan untuk itu dan sesuatu yang baik akan terjadi,’ katanya.

Dengan uang tersebut, dia membeli sebuah rumah dan mulai bekerja dari rumah sebagai seorang trainer telesales untuk call centre lain. Tapi setelah 10 tahun melakoni pekerjaan ini, diusianya yang ke 42 dan mempunyai tiga orang anak, dia memutuskan bahwa dia benar-benar ingin memulai bisnisnya sendiri.

Dia mengatakan: ‘Sebagai konsultant dan trainer, penghasilan ku cukup tinggi, tapi itu tidak bisa meningkatkan nilai kekayaan ku karena aku hanya dibayar jika aku benar-benar bekerja. Perbedaannya adalah bahwa saat anda memiliki bisnis sendiri, maka anda bisa tetap menghasilkan uang meski anda sedang tidur.’

Pada awalnya, dia berpikir untuk membuka bisnis trainingnya sendiri. Dia mengatakan: ‘Banyak industri training yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan independent yang kecil sehingga aku memutuskan untuk menambah modal dan membeli banyak perusahaan kecil agar bisa membuat sebuah kerajaan training yang besar.’

Tapi setelah berbicara dengan beberapa bank mengenai idenya, dia menemukan bahwa mereka tidak mau memberikan modal yang dia butuhkan. Jadi, dia membatalkan idenya dan mulai berpikir lagi.

Ide besar berikutnya adalah sebuah konsep yang dia sebut Pocket Franchise, yang bertujuan untuk membantu para pekerja yang ingin menjadi pengusaha dengan cara membeli sejumlah saham dari perusahaan dimana mereka bekerja.

Dia mengatakan: ‘Kupikir itu adalah sebuah ide yang hebat. Aku sampai tidak bisa tidur karena memikirkannya, dan aku sangat terobsesi.’ Akan tetapi, dia segera menyadari bahwa mungkin akan butuh waktu yang sangat lama untuk membuat direktur perusahaan mau mengadopsi konsepnya.

‘Perusahaan-perusahaan besar menyukai ide tersebut, tapi kurasa itu membuat mereka sedikit gugup. Jika anda ingin menjual sebuah ide pada sebuah perusahaan besar dimana ide tersebut harus disetujui pada level atas, maka prosesnya akan membutuhkan waktu yang sangat lama, dan aku tidak punya kesabaran seperti itu. Aku menginginkannya sekarang.’

Setelah itu, barulah ide besarnya muncul. Saat itu, dia masih bekerja sebagai seorang konsultant, dan diminta untuk memberi petunjuk pada sebuah call centre yang sedang mencoba menarik konsumen-konsumen baru untuk dua buah perusahaan yang bergerak dibidang energi gas dan listrik. Perusahaan tersebut telah menghubungi para pemilik rumah tapi tidak banyak yang menanggapinya.

Darby mengatakan: ‘Aku menyarankan bahwa dari pada mereka menelpon orang-orang dan mencoba untuk menawarkan produk, lebih baik mereka mencari supplier terbaik untuk konsumen tersebut dan memberikan kontraknya kepada perusahaan energi. Ide tersebut tampaknya sangat jelas bagi ku. Aku rasa itu adalah sebuah situasi yang sama-sama menguntungkan.’

Namun ternyata sang klien tidak tertarik dengan solusi yang diberikan Darby. Tapi saat dia berjalan ke mobilnya, Darby menyadari bahwa ternyata dia benar. Dia mengatakan: ‘Aku berjalan dari kantor mereka menuju tempat parkir saat menyadari: “Oooh.. itu ide yang hebat, mungkin ada jalan untuk mewujudkannya.” Dan semakin sering aku memikirkannya, semakin sulit untuk melupakannya. Ide tersebut benar-benar menyita perasaan dan pikiran ku. Saat itu, ide tersebut tampak sangat benar dan sederhana. Siapapun bisa memahami konsepnya dan cuma butuh 20 menit untuk menjelaskannya.’

Dia mulai meneliti idenya dan menemukan bahwa meski ada sejumlah perusahaan berbasis internet yang memberikan fasilitas kepada orang-orang untuk membandingkan harga listrik dan gas serta mengubah supplier secara online, namun layanan yang berbasis telephone belum ada, dan inilah yang membuat Darby semakin yakin bahwa idenya akan berhasil.

Dia mengatakan: ‘Pasarnya sebenarnya adalah sebuah bisnis internet tapi kami memutuskan untuk melakukannya dengan cara lama, yaitu melalui telephone, karena kupikir orang-orang lebih menyukai kontak langsung melalui layanan telephone. Konsumen ingin berbicara langsung dengan seseorang yang bisa menjawab pertanyaan dan menyingkirkan ketakutan mereka, serta memastikan bahwa jika mereka mengganti supplier, maka rumah mereka akan tetap aman.’

Dia mengambil libur selama musim panas untuk menulis bisnis plan dan meminta seorang kolega, Alistair Tillen, untuk bergabung dengannya sebagai partner. Kemudian dia mulai mencari investor.

Dia mencoba untuk menemukan orang-orang yang kaya, tapi saat cara tersebut tidak berhasil, dia mendekati sebuah perusahaan permodalan, Bridges Community Ventures. Mereka menyukai idenya dan setuju untuk berinvestasi sebesar £125,000 dalam perusahaan dengan imbalan 35 persen kepemilikan saham.

Darby menjaminkan kembali rumahnya untuk mendapat modal tambahan sebesar £17,000, dan partnernya menanamkan modal sebesar £23,000.

Ide yang berada dibelakang perusahaannya, Simply Switch, adalah untuk memberikan supplier energi termurah kepada konsumen. Jika konsumen memutuskan untuk mengubah supplier yang direkomendasikan, maka perusahaannya Simply Switch, akan mendapat sejumlah fee dari perusahaan energi.

Jasa dari perusahaannya ini dipromosikan melalui surat kabar, badan amal, dan retailer dengan prinsip kemitraan. Pada awalnya, sangat sulit untuk membujuk supplier energi agar mau mengambil bagian dari skema ini, sehingga Simply Switch sempat mengalami kesulitan dibidang finansial.

Tapi lambat laun, idenya mulai berjalan. Saat ini Simply Switch menerima lebih dari 1.000 panggilan telephone per hari dari orang-orang yang ingin mencari harga termurah dan mengembangkan layanannya, mulai dari mencarikan perusahaan telephone termurah, jasa broadband, dan sampai kartu kredit.

‘Konsumenlah menghubungi kami bukan sebaliknya, karena mereka sangat tertarik, dan itulah yang memberikan perbedaan besar,’ kata Darby.

Di tahun 2006, Darby menjual bisnisnya seharga £22 juta. Dan semenjak itu dia memulai sebuah bisnis baru, Call Britannia, sebuah bisnis berbasis call centre yang ditujukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan pada setidaknya 10.000 orang pengangguran.

‘Aku menyukai cara ku,’ kata Darby. ‘Jika seseorang mengatakan bahwa sesuatu tidak bisa dilakukan, aku suka untuk menunjukkan pada mereka bahwa itu bisa dilakukan. Aku orangnya cukup kompetitif.’

Darby mengatakan bahwa dia termotivasi oleh keinginannya untuk meninggalkan kenangan akan dirinya. ‘Aku cuma tidak ingin nantinya nisan ku bertuliskan: “Disinilah terbaring Karen Darby yang cukup ahli dalam menelpon.” Bagiku itu tidak cukup. Aku ingin memberikan sebuah kontribusi dalam hidup dan melakukan sesuatu yang bernilai. Akan sangat menyenangkan jika aku bisa meninggalkan sesuatu berharga.’

Sumber : http://kisah-pengusaha-sukses.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s