Raih Sukses Ke 200 Setelah Gagal 199 Kali

Jayadi (56) memilih usaha keripik buah dengan alasan, di wilayah tempat tinggalnya, Batu, Jatim, buah mudah didapat. Mesin pembuat camilan pun dibuatnya sendiri, yakni berupa penggoreng berbentuk tabung besar yang dilengkapi penyerap uap air.

Mesin buatannya itu akan menjadikan buah tanpa kadar air. Mesin produksi sudah jadi, bukan berarti segalanya siap. Dalam penghitungannya, setidaknya 199 kali dia mencoba. “Baru pada percobaan ke-200, saya merasa puas dengan hasilnya. Hasil penggorengannya layak dikonsumsi dan kesehatannya dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Tahap pertama, Jayadi memproduksi keripik nangka dan nanas dengan merek dagang Vigour. Tetapi, kenyataan sering tak sesuai perkiraan. Modal awal membangun bisnis senilai Rp54 juta serasa melayang. Betapa tidak, lantaran beberapa kali terjadi kesalahan produksi, bisnisnya terus merugi. Keripik nangka dan nanas itu jeblok di pasaran. Sialnya, keripik sejenis juga telah lebih dulu marak. Pendek kata, camilan merek Vigour belum ada apa-apanya.Dia terus benahi mesin penggorengan itu hingga benar-benar dapat menghasilkan keripik yang renyah dan gurih.

Bukan Jayadi bila lantas mundur dengan situasi itu. Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan. Segala celah yang menjadi titik lemah dia perbaiki. Salah satunya tentang mesin produksi. Dia terus benahi mesin penggorengan itu hingga benar-benar dapat menghasilkan keripik yang renyah dan gurih. Yang menarik, Jayadi punya resep unik saat menghadapi kesulitan. Apa itu? Lagu dangdut berjudul Jatuh Bangun.

Lagu yang dipopulerkan Kristina dan Meggy Z itu begitu menginspirasi baginya. “Intinya jangan cepat menyerah,” kata dia.

Jayadi juga tak ragu-ragu untuk belajar pada orang lain dalam berbisnis makanan ringan. Setapak demi setapak bisnis itu pun mulai berkembang. Pasar yang semula sulit ditembus, akhirnya berhasil ditaklukkan. Dari semula memproduksi keripik nangka dan nanas, kini 19 jenis buah dan sayur berhasil dia “sulap” menjadi keripik. Yang hebat, Jayadi sukses “menaklukkan” semangka.

Dari semula memproduksi keripik nangka dan nanas, kini 19 jenis buah dan sayur berhasil dia “sulap” menjadi keripik. Yang hebat, Jayadi sukses “menaklukkan” semangka. Melalui serangkaian uji coba, dia berhasil mengubah buah penuh air itu menjadi keripik yang kering. “Salah satu keunggulan Vigour memang bisa mengubah buah kaya air menjadi keripik. Kita jamin, baru Vigour yang bisa membuatnya. Keunggulan lainnya, kecanggihan mesin produksi kita tidak kalah dengan perusahaan besar,” sebutnya.

Di saat teman-teman sesama pengusaha keripik lainnya gagal mengubah semangka menjadi camilan kering, Jayadi sanggup melakukan itu. Melalui serangkaian uji coba, pria ramah ini berhasil mengubah buah penuh air itu menjadi keripik yang kering. Tak heran, kemampuannya menciptakan produk makanan itu menjadikan namanya berkibar. Merek dagang Vigour juga melejit.

“Salah satu keunggulan Vigour memang bisa mengubah buah kaya air menjadi keripik. Kita jamin,baru Vigour yang bisa membuatnya. Keunggulan lainnya, kecanggihan mesin produksi kita tidak kalah dengan perusahaan besar,” sebutnya.

Keripik Vigour kini tersebar di Kota Batu, Jayapura, Aceh, Medan, Riau, Bangka Belitung, Padang, Palembang, dan Sulawesi. Empat unit mesin produksi yang dimilikinya dalam sehari sanggup memproduksi 120 kg keripik. Omzet rata-rata per bulan mencapai Rp252 juta. Berbekal semangat tak lelah mencoba, Jayadi sukses mengembangkan usaha keripik buah. Tak pernah terbersit sebelumnya dalam pikiran Jayadi menjadi pengusaha keripik. Semuanya berawal dari rasa penasaran. Jayadi diliputi tanda tanya kala beberapa pengusaha makanan memesan mesin produksi padanya.

Jauh sebelum berkecimpung di bisnis makanan ringan, Jayadi lebih dulu meretas usaha bengkel bubut. Pria 56 tahun ini memiliki bengkel bubut di rumahnya di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur.

Tak heran, dia tiap hari berkutat dengan mesin bubut, las,dan sejenisnya. Usaha itu berkembang cukup baik. Sejumlah pengusaha makanan ringan dan minuman kemasan menjadi pelanggannya.

Namun, justru di situlah keinginan menggebu Jayadi untuk menerjuni bisnis makanan bermula. “Dari tahun ke tahun banyak orang memesan mesin produksi. Lantas saya bertanya-tanya, mengapa tak mencoba membuat mesin dan digunakan sendiri. Saya lihat, pengusaha camilan itu juga sukses dan jarang rugi,” ujar pria berkacamata ini menceritakan awal berbisnis makanan.

Keraguan memang sempat membayangi benak Jayadi saat itu. Bukan apa-apa, dia sama sekali tidak punya pengalaman berbisnis makanan. Apalagi latar belakangnya adalah sarjana teknik. Menciptakan mesin produksi barangkali bukan masalah baginya. “Tapi, bagaimana dengan pemasarannya nanti,” ucapnya. Namun, tekadnya mewujudkan mesin untuk memproduksi makanan ringan tak padam.

Percobaan demi percobaan pun dilakukan. Jayadi memilih usaha keripik buah dengan alasan, di wilayah tempat tinggalnya buah mudah didapat. Mesin itu pun akhirnya terwujud, penggoreng berbentuk tabung besar yang dilengkapi penyerap uap air.

Mesin buatannya itu akan menjadikan buah tanpa kadar air. Mesin produksi sudah jadi, bukan berarti segalanya siap. Ketika kali pertama dicoba, hasilnya tidaklah sempurna.

“Semua serba automatis dan tetap menjaga kualitas produksi serta kebersihan tempat produksi menjadi modal utama dalam meraih kesuksesan di pasar,” sambungnya bersemangat.

Menurut Jayadi, dari usaha pembuatan keripik aneka buah itu, hasilnya sudah bisa menyubsidi bidang usaha lain yang dimilikinya.” Saat usaha di bengkel sedang sepi, keuntungan dari berjualan aneka keripik bisa membantu usaha tersebut,” sebut Jayadi sambil tersenyum.

Dia mengisahkan, saat merintis usahanya, karyawannya hanya belasan orang. Lantaran permintaan terus meningkat dari waktu ke waktu, Jayadi kini sudah mempekerjakan 45 orang, yang sebagian besar tetangganya.

“Hitung-hitung sambil membantu tugas pemerintah dalam mengurangi pengangguran. Mereka (para karyawan) sudah kita beri tugas sesuai kemampuannya masing-masing. Ada yang bertugas di bidang pemasaran, produksi, accounting, dan pemasaran produk di dua outlet yang kami miliki,” ucap Jayadi.

Dua outlet di Kota Batu itu berada di Kompleks Ruko Batu Galleria, Jalan Diponegoro, dan Jalan Raya Mojorejo No 35 B, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo.

Menurutnya, aneka keripik Vigour tak hanya tersebar di Kota Batu,Kota Malang, Kabupaten Malang, dan beberapa kota lain di Jawa Timur, namun telah dipasarkan di Jayapura, Aceh, Medan, Riau, Bangka Belitung, Padang, dan Palembang. “Untuk wilayah Kalimantan, ada di Samarinda, Balikpapan,Tarakan, dan Banjarmasin,” sebutnya.

Adapun di Sulawesi, kata Jayadi, hampir di seluruh ibu kota provinsi dan kabupaten/kota sudah terdapat keripik buah dari Vigour. “Sekarang sudah ada empat unit mesin produksi. Dua unit ditempatkan di rumah dan dua unit lainnya di outlet Jalan Raya Mojorejo,” ungkapnya.

Empat unit mesin produksi yang dimiliki Jayadi dalam sehari sanggup memproduksi 120 kg keripik. Omzet rata-rata per bulan mencapai Rp252 juta. Ini belum termasuk dari minuman sari buah dan berbagai kue yang dipajang di outlet.

Biarpun telah berhasil, Jayadi menuturkan, hambatan kadang tetap terjadi. Misalnya, ketika musim buah sudah berlalu, dia harus mencari bahan baku sampai di luar Jatim. “Kadang sampai Semarang bahkan Lampung. Kalau buah apel, di Batu tetap tersedia terus,” sebut Jayadi.

Mengenai strategi pemasaran, Jayadi mengaku memanfaatkan kunjungan wisatawan yang berlibur ke Kota Batu. Dia bekerja sama dengan perusahaan agen-agen pariwisata dari luar kota. “Begitu wisatawan yang dibawa masuk ke Kota Batu, saat pulang mereka diajak berhenti di outlet milik Vigour. Kalau pas rezeki, sekali datang terdapat 5-7 bus,” katanya.

Industri rumah tangga keripik buah saat ini mengalami peningkatan akibat banyaknya permintaan konsumen yang menyukai keripik buah seperti nangka, mangga, salak, tape singkong, durian dan nenas.

Tak hanya Jayadi yang sukses dengan usaha keripik buahnya, adalah Asmah (40 tahun), salah seorang pengusaha pembuatan keripik buah di Perumahan Palem Emas Medan mengatakan, sudah lima tahun menekuni usahanya di rumahnya sendiri dengan nama produk Keripik cap Tamita dan Takengon.

Suatu saat, dia mendapat alat pembuatan keripik dengan bahan baku buah-buahan. Ide pun muncul, untuk membuat keripik dari buah durian dan nangka. Ternyata usahanya berhasil. Kemudian dia merambah buah salak dan mangga.

“Alhamdulillah, keripik dari buah durian, nangka, salak, dan mangga laris. Sejak saat itu, pesanan berdatangan,” katanya ketika mengupas dan menggoreng nangka di rumahnya.

Ia menambahkan, melalui usaha pembuatan keripik buah-buahan dia telah mempunyai pelanggan yang tetap seperti di pasar tradisional dan di pasar-pasar modern yang berada di kota Medan. Sedangkan buah-buahan didapatkannya dari para pengumpul buah di sekitar kawasan rumahnya.

“Saya ingin membuat orang penasaran saja, kok buah seperti nangka bisa jadi keripik,” paparnya.

Pemasarannya produknya tidak hanya sampai di situ saja, tetapi juga di kota-kota lain di Sumatera. Harga keripik nangka dan tape dijualnya Rp 12.000 perbungkus dan keripik salak, mangga serta nenas dijualnya Rp 13.000 perbungkus sedangkan keripik durian dijual dengan harga Rp 35.000 perbungkusnya.

“Saat ini yang lebih banyak membeli adalah dari warga Tionghoa,” tambahnya.

Namun, di balik keberhasilannya itu, dengan semakin banyaknya permintaan pasar, dia merasakan betapa kepedulian dan perhatian dari pemerintah masih sangat kurang. Terutama bantuan permodalan dan peralatan.

Sumber : http://www.suaramedia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s