Gagal,,Bangkit Jadi Pengusaha Kacang Sangan

Bu Mutholi’ah, pembuat kacang sangan Wonolelo, Pleret, Bantul
Modal paling penting jika ingin menjadi orang sukses adalah kemauan dan keberanian untuk, mencoba dan menghadapi risiko.
Hal ini dibuktikan oleh Mutholi’ah (55th) perempuan warga Dusun Purworejo, Desa Wonolelo, Pleret, Bantul, yang kini sukses sebagai pengusaha kacang sangan.
Bu Mut – panggilan akrabnya – tak langsung menggeluti usaha kacang. Ada cerita panjang menuju itu. Sebelumnya ia pedagang roti. Usaha dagang roti dimulai tahun 1990.
Usaha roti diawali dengan khulakan di tempat tetangganya yang telah memproduksi roti. Lalu Bu Mut menyetorkan ke warung-warung dan pasar-pasar tradisional di sekitar daerah Bantul. Lambat laun pesanan usaha rotinya makin banter, maka ibu beranak empat itu berkeinginan untuk memproduksi roti sendiri.
Bermodal 2 kompor minyak dan 2 jenis cetakan roti tercapailah keinginannya untuk membuat atau memproduksi roti sendiri. Bersamaan itu Bu Mut memperlebar pasaran rotinya ke luar daerah. Pasar yang dirambahnya antara lain di Temanggung, Wates, Purworejo dan Kutoarjo. Berangsur-angsur usaha rotinya makin ramai dan terkenal dengan nama roti bolu Bu Mut.

Tapi tak selamanya perjalanan hidup manusia berjalan dengan mulus. Begitu juga dengan perjalanan usaha Mutholi’ah. Tahun 1998, seiring krisis moneter, yang menyebabkan harga-harga meningkat, harga bahan-bahan untuk membuat roti terimbas, harganya naik dratis. Sedangkan para pedagang pasar tidak mau menaikan harga rotinya. Selain itu, kualitas bahan mentah roti pun jelek sehingga dalam 3 hari roti sudah menjadi busuk. Sejak saat it usaha rotinya menjadi seret dan pesanan pun mulai jarang, sehingga lama kelamaan usaha rotinya macet total.

Namun hal itu tidak mengecilkan hati Bu Mut untuk memulai usaha lain.
Di tengah-tengah keterpurukan usahanya dia mencoba untuk berdagang kacang sangan (kacang yang dikeringkan dan digoreng beserta kulitnya tanpa menggunakan minyak).

Tahun 2008 ia memulai usaha berdagang kacang sangan.
Hal pertama yang dilakukannya untuk memulai usaha kacang tidak jauh beda dengan saat memulai usaha rotinya dulu, yaitu: kulakan dari tetangganya. Namun sebelum kulakan kacang Bu Mut diantar suaminya melakukan survey dulu di pasaran untuk melihat-lihat pasar mana yang kira-kira masih sedikit penyetor kacang sangan. Dari hasil surveinya, Bu Mut merasa sangat yakin kacang sangan akan terjual dipasaran. Berdasarkan keyakinan itu dia tidak tanggung-tanggung langsung memesan 20 bal (1 bal sama dengan 5 kg) dan menyetorkannya.
Melihat hasil penjualan pertama habis di pasaran, Bu Mut langsung membeli 1 buah drum yang dirancang untuk tempat menggoreng kacang dan membeli tabung gas beserta kompornya. Dengan ke 3 alat tersebut mulailah usaha penggorengan kacang dirintis.

Untuk masalah pemasaran kacang sangan perempuan yang tidak tamat SD ini tidak mengalami kesulitan. “Kacang sangan ini saya setorkan kepada para pedagang roti langganan saya dulu baik yang di dalam daerah maupun keluar daerah. Selain itu saya juga setorkan di agen-agen makanan. Malah justru yang agen-agen makanan setiap lima hari minta dikirim 45 bal,” ujar perempuan berwajah bulat itu.
Untuk memulai usahanya, perempuan yang ulet dalam bekerja ini meminjam dana simpan pinjam kelompok tani wanita (KTW) Purworejo. “Saat saya memulai usaha kacang sangan, saya kekurangan modal, sehingga saya pinjam di simpan pinjam KTW Purworejo. Proses peminjaman mudah dan angsurannya ringan,”ungkapnya saat ditemui Krida, Jumat 25 Maret 2011.
setiap hari Mutholi’ah bekerja mulai pukul 07.30 hingga pukul 16.00. Jika banyak pesanan, dia akan lembur sampai pukul 22.00.

1 Ton per Minggu
Meskipun baru empat tahun bergelut dalam usaha kacang sangan, tapi Bu Mut sudah dapat menikmati keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta per minggu.
Keuntungan itu diperoleh dari selisih harga kacang mentah Rp 10.000/kg dan harga jual kacang sangan Rp 15.000/kg. Setiap minggu, rata-rata Bu Mut yang dibantu suami dan 2 karyawannya menghabiskan 10 kwintal atau satu ton. Keuntungan kotor per minggu sekitar Rp 5 juta. Setelah dikurangi biaya roduksi, seperti gas tiap harinya, untuk pembelian dan penyablonan plastik kemasan dan untuk gaji karyawan, keuntungan bersih tiap minggunya sekitar Rp 3,7 juta.

Untuk menarik para pelanggan, perempuan yang ulet dalam bekerja ini mengemas kacang sangan tersebut ke dalam plastik yang setiap paket/bal-nya berisi 5 kg. Untuk menjaga kesetiaan para pembeli Bu Mut selalu memilih kacang yang berkualitas, berisi, berkulit bersih dan berwarna merah. Kacang merah dipilih karena kacang yang kulitnya berwarna merah kelihatan lebih cerah dan tidak mudah gosong waktu digoreng. Sebelum digoreng kacang mentah ditapeni (dibersihkan dengan menggunakan tampah) agar kacang kacang busuk tidak ikut tergoreng,
Agar para pembeli mudah mengenali kacangnya, maka Bu Mut menyablon plastik yang digunakan untuk mengemasi dengan tulisan “Kacang Sangan UD Manunggal“.
Usaha kacang sangan bagi Bu Mut tak menghadapi kendala berarti. Suplai kacang mentah relatif tidak mengalami masalah. Untuk mendapatkan kacang mentah ibu yang sudah bercucu empat ini setiap 5 hari sekali memesan kepada para pedagang kacang mentah Pasar Imogiri untuk dikirim ke rumahnya sebanyak. sekitar 15 kwintal.

Tetapi di musim penghujan, kacang dipasar hampir tidak ada, jika pun ada biasanya jelek dan banyak yang busuk. Untuk mengatasi kelangkaan kacang mentah di pasar, Bu Mut ditemani suaminya terpaksa membeli langsung dari para petani. Meskipun begitu Bu Mut tidak asal-asalan dalam membelinya. Dia tetap mencari kacang yang berkualitas bagus. Harga kacang pun naik turun, tergantung musimnya. ”Di musim penghujan seperti ini harga kacang mentah mencapai Rp 10.000/kg”ujar perempuan yang juga berdagang arang ini.

Dari hasil usahanya, Bu Mut dapat membiayai sekolah empat anaknya. Kini anak yang pertama dan yang ke dua sudah berkeluarga, sedangkan anak yang ketiga bekerja di SMP N 5 Yogyakarta dan anak terakhir masih melanjutkan kuliah di UIN SUKA sembari menimba ilmu agama dipondok pesantren.

Sukses usaha Mutholi’ah tak hanya karena ulet. Berani mencoba, juga penting. “Selain kacang dan roti, sakbenere kula pernah mencoba dagang peyek, rengginan, mlinjo, palawija, areng. Prinsip kula, aja wedi nyoba. Yen gagal, kuwi dienggo pengalaman wae,” katanya.
Ya, jangan takut untuk mencoba. Kalau gagal dalam usaha bukan akhir segalanya, tapi jadikanlah sebagai pengalaman. Itulah prinsip Mutholi’ah.

Sumber : http://korankrida.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s