Datangkan Omzet Puluhan Juta Dari Cempedak

Cempedak tampak seperti buah nangka, namun aromanya mirip buah durian.

Kulit buah cempedak ternyata juga lezat untuk disantap. Di Kalimantan Selatan (Kalsel), asinan kulit buah cempedak ini merupakan camilan favorit masyarakat setempat. Seorang perajin asal Kecamatan Batumandi bahkan mengaku sampai kewalahan melayani pesanan panganan ini.

Mungkin tak banyak orang yang pernah melihat buah cempedak. Kalau Anda salah satunya, cempedak tampak seperti buah nangka. Namun, aromanya mirip buah durian. Ketika dicium, wanginya sungguh menyengat.

Seperti nangka, cempedak yang sudah masak bisa disantap langsung. Sedangkan cempedak muda bisa dijadikan bahan sayur. Buah cempedak tidak mudah hancur, saat diolah menjadi apa pun. Bijinya juga bisa dimakan dengan cara direbus, digoreng, atau dibakar terlebih dahulu.

Keunikan lain buah ini, kulitnya bisa diolah menjadi asinan. Tentu bukan kulit luar yang mirip kulit nangka, melainkan kulit bagian dalam. Masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel) biasa menyebut panganan dari kulit cempedak ini dengan sebutan mandai.

 

Salah seorang perajin mandai di Batumandi, Kalsel, adalah Saladin. Dia sudah membuat camilan ini sejak 2004. Saat memulai usaha, Saladin cuma membutuhkan dana Rp 750.000 sebagai modal awal. “Mandai merupakan panganan turun temurun,” ujar pria 37 tahun ini.

Proses pembuatan mandai ternyata mudah. Kulit cempedak yang sudah dipisahkan dari daging buah, biji, dan kulit bagian luar; dicuci bersih. Lalu, kulit bagian dalam ini direndam dalam air garam selama satu jam. Setelah itu, kulit yang basah ditiriskan.

Langkah tersebut dilakukan berulang. “Satu kilogram kulit cempedak hendaknya disimpan dalam air setengah liter yang dibubuhi 150 gr garam,” imbuh Saladin.

Dengan cara penggaraman ini, mandai akan awet bahkan sampai dua tahun.

Untuk mengkonsumsinya, mandai bisa disayur lodeh ataupun digoreng. “Mandai bisa berkhasiat untuk menambah nafsu makan,” lanjut Saladin. Karena pesanan mandai ke perusahaan miliknya, Agro Sanggang, laris manis; kini Saladin harus mempekerjakan 12 karyawan.

Sayangnya, buah cempedak adalah buah musiman yang hanya muncul bulan Oktober sampai Februari. Akibatnya, saat permintaan mandai tinggi, Saladin kewalahan memenuhi permintaan tersebut. “Pembelinya masyarakat Kalsel yang merantau ke luar negeri seperti di Arab Saudi, Dubai, dan Kuwait,” terang bapak dua anak ini.

Untuk menyiasati, Saladin bekerjasama dengan sejumlah perajin mandai dari lima desa di daerahnya. Produksi Saladin sendiri dan pasokan dari para perajin ini dia jual dalam kemasan gelas plastik 200 gr dan kotak plastik 0,5 kilogram.

Saladin mengaku sanggup melayani pesanan mandai gelasan hingga 2.000 gelas per bulan, seharga Rp 2.000 per gelas. Namun jangan tanya kalau sedang tidak musim cempedak, harganya bisa naik lima kali lipat sampai Rp 10.000. Begitu pula dengan yang ukuran kotak 0,5 kg, harganya bisa mencapai Rp 50.000.

Saladin mampu menangguk omzet hingga Rp 30 juta per bulan. Keuntungan bersih yang dia peroleh mencapai Rp 8 juta.

Saladin optimistis usahanya bakal berkembang. Buktinya, ada supermarket di Banjarmasin yang sudah minta pasokan dari dia.

Sumber : http://www.suaramedia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s