Berijazah STM Mampu Mendobrak Pasar Luar Negeri

Usaha kerajinan bagi masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di daerah pariwisata umumnya merupakan usaha yang telah lama di tekuni dan merupakan usaha turun temurun dari generasi sebelumnya.

Barang-barang kerajinan tersebut diminati oleh wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. Bahkan ada beberapa produk mainan yang sudah diekspor ke manca negara, meskipun secara volume dan nilai ekspor belum dapat bersaing dengan volume dan nilai ekspor komoditi andalan yang lainnya baik di sektor migas maupun non migas.

Daerah Kasongan, Bantul misalnya, terkenal akan kerajinannya. Dari pusat kota Yogyakarta, Kasongan dapat ditempuh dalam waktu setengah jam dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua.

Setelah memasuki km 5,6 di jalan Bantul, pada sebelah barat terpampang sebuah koridor berbentuk gapura merah yang bertuliskan Desa Wisata Kasongan. Selama perjalanan ke arah barat di daerah wisata Kasongan terdapat aneka kreativitas kerajinan untuk dibawa pulang sebagai cinderamata.

Sejak Tahun 70′an

Daerah ini terkenal akan hasil karya kerajinannya. Sejak tahun 70’an kasongan menjadi tujuan wisata dan mengalami kemajuan yang signifikan. Kerajinan gerabah dipadukan dengan sentuhan seni dan komersil menghasilkan nilai seni yang berharga.

Motif yang ditonjolkan pada umumnya berupa guci, dengan motif bunga, bunga mawar, buah buahan, alam, dan masih banyak lagi. Selain guci aneka pot, furniture, meja kursi, pernak pernik, mebel hingga interior menjadikan rumah anda lebih menawan elegant, dan tentu lebih cantik.

Para pengrajin kasongan mampu meningkatkan taraf hidup mereka dengan memproduksi bahan mentah menjadi sebuah hasil karya yang bernilai. Dengan kreativitas dan inovatif yang mereka miliki, para pengrajin mampu melakukan perubahan bentuk yang lebih bervariasi dan menarik dengan harga yang bervariatif pula.

Tidak hanya gerabah yang menjadi pasaran warga kasongan, mulai dari gerabah, bambu, batik kayu hingga topeng. Dan semua kerajinan tersebut intinya terbagi menjadi 3 kategori jenis produk kerajinan, yaitu kerajinan aksesories, home interior, dan koleksi kerajinan antik.

Gading Craft

Selama 13 tahun pertama, Pak Tumiran berkecimpung di dunia perkulitan. Pada tahun 1993 terjadi embargo kulit Indonesia di Australia, semua kulit yang berasal dari Indonesia tidak boleh masuk ke Australia. Padahal pada saat itu sebagian besar konsumen Pak Tumiran berasal dari negara Australia.

Semenjak terjadinya embargo Australia itulah usaha kulit Pak Tumiran menurun secara drastis. Oleh sebab itu Pak Tumiran banting setir mengubah usahanya yang semula di bidang kulit menjadi bidang perkayuan/craft. Walaupun hanya berijazahkan STM Pak Tumiran tidak pesimis terhadap pengusaha handicraft lain yang lebih dulu sukses.

Usaha Pak Tumiran ini diberi nama Gading Craft, yang berlokasi di Kasongan, Jagan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Produk yang dihasilkan oleh Pak Tumiran adalah interior dan mirror. Produk utama dari Pak Tumiran adalah mirror. Pangsa pasar Pak Tumiran banyak berasal dari luar negeri antara lain Jerman, Perancis, Belanda dan Amerika Serikat yang menjadi konsumen terbesar.

Bahan baku yang didapat sudah disediakan oleh beberapa agen yang bekerjasama dengan Pak Tumiran. Selain itu bahan baku juga di cari berdasarkan keinginanan ataupun pesanan dari konsumennya.

Sebagian besar desain hasil produksi Gading Craft berasal dari ide Pak Tumiran. Sebagian lagi berasal dari para konsumen yang memesan. Untuk sementara ini Pak Tumiran sudah memiliki 20 pegawai dan 1 sekretaris. Para pegawai kebanyakan diambil dari warga sekitar. Untuk masalah keuangan Gading Craft, saat ini di tangani langsung oleh Pak Tumiran dibantu sang sekretaris.

Dari Gethok Tular Hingga Kesulitan Perbedaan Bahasa

Untuk memperkenalkan produknya Gading Craft mengikuti berbagai pameran di beberapa kota dan juga lewat gethok tular. Cara ini ternyata sangat efektif. Tidak lama kemudian pesanan selalu saja ada dan hingga saat ini termasuk kewalahan untuk memenuhinya.

Perbedaan bahasa terkadang menjadi kendala Pak Tumiran untuk bernegosiasi dengan para konsumennya. Omset Pak Tumiran mencapai ratusan juta rupiah, hanya saja semenjak terjadinya krisis global, omsetnya menurun.

Produknya dibuat sangat halus dan didukung oleh finishing yang sempurna. Dampak dari itu adalah banyak pembeli asing yang sering mengambil produk di tempatnya. Semua proses produksi di bawah pengawasan Pak Tumiran.

Setiap harinya sehabis mengantarkan anaknya berangkat sekolah, Pak Tumiran langsung menuju kantornya, mengkontrol seluruh proses produksi dari kerajinan yang dikelolanya. Untuk menjaga kepuasan konsumen dan pangsa pasar, Pak Tumiran mengutamakan keunggulan design dan kualitas produk.

Design dibuat mengikuti kebutuhan konsumen dan pastilah mengikuti perkembangan zaman akan tetapi tidak mengindahkan nilai-nilai seni. Selain itu Pak Tumiran juga memberikan pelayanan yang terbaik bagi para konsumennya.

Untuk mempromosikan produknya, Pak Tumiran memanfaatkan teknologi internet. Tak jarang juga para konsumen datang lansung ke kantor Pak Tumiran untuk memesan produk dari Gading Craft ini.

Harga untuk setiap poduknya bervariasi, semua tergantung dari desain, kualitas, dan bahan baku pembuatan. Yang pasti, semua pengrajin di Kasongan maupun di daerah yang lainnya pasti memiliki ciri khas masing-masing. “Jadi tidak ada yang saling menjatuhkan mas”, ujarnya kepada kami.

Sumber : http://bisnisukm.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s