Kisah Sukses Pengusaha Sagun Bakar

Kue Sagon ternyata tidak hanya terdapat di pulau Jawa. Kalau kita ke toko-toko kue di Padang, Bukittinggi, dan berbagai daerah lain di Sumatera Barat, banyak terdapat kue sagon ini yang menjadi salah satu kue oleh-oleh khas Sumatera Barat. Yang membedakan, salah satunya adalah karena kue sagon ini cara pembuatannya adalah dibakar, maka kemudian disebut sebagai kue sagun bakar. Banyak produsen kue sagon di Sumatera Barat, dan salah satu yang terkenal adalah Allantaque.

Pemilik usaha ini adalah Ibu Gusni Mawarita, atau yang lebih dikenal dengan Ibu Ani. Ibu lima anak kelahiran Bukittinggi 5 Agustus 1958 ini sukses mengembangkan usaha pembuatan kue ini berkat kerja keras dan ketekunannya memulai usaha sejak tahun 1987. Faktor ekonomi menjadi pendorongnya. Saat suami Ibu Ani sekolah lagi di Jakarta, kebutuhan keluarga menjadi lebih banyak sehingga membutuhkan pemasukan lebih besar. Dorongan itulah yang kemudian membuat Ibu Ani mencoba memulai usaha pembuatan kue.

Agar lebih fokus, Ibu Ani memutuskan hanya membuat satu kue, yaitu Sagon Bakar. Keputusan ini ternyata tepat, karena bisa membuat proses kerja lebih efisien. Dan pada perkembangannya, variasi produk tetap dikeluarkan dengan membuat sagon bakar aneka rasa.

Kesuksesan Ibu Ani tidak terjadi begitu saja. Pertama mengembangkan usaha, tidak mudah meyakinkan para pedagang dan toko kue agar mau menjual produknya. Apalagi, saat itu produknya masih baru. Karena masih baru, Ibu Ani tidak menerapkan syarat yang rumit bagi para pedagang, yang penting produknya bisa masuk toko tersebut.

Satu demi satu toko-toko kue dan oleh-oleh di Sumatera Barat ia jajaki untuk bekerja sama. Ada yang mau menjual kuenya, tetapi banyak juga yang menolak bekerjasama. Terhadap yang menolak, Ibu Ani tetap berpikir positif dan mencari toko-toko lain yang mau menerima. Baru setelah permintaan dari para pelanggan kuenya meningkat, banyak toko yang tadinya menolak, kini malah meminta produknya untuk dijual di sana.

Tantangan lain adalah dari para pesaing, yaitu para pembuat kue di Sumatera Barat yang memang cukup banyak. Kalau di satu toko sudah ada produk pesaing, biasanya pemilik toko agak enggan memasukkan produk lain. Karena itu, terutama pada awal usaha, meyakinkan pemilik toko agar mau menjual produknya tidaklah mudah, apalagi yang sudah ada produk pesaing di dalam tokonya. Namun demikian, lambat laun, dengan semakin banyaknya pembeli yang merasakan enaknya produk Sagun Bakar Ibu Ani, dengan sendirinya bu Ani mulai berhasil menguasai berbagai toko kue di Sumatera Barat.

Namun persaingan tidak berhenti sampai di situ. Melihat produk Bu Ani yang semakin diminati pembeli, para pesaing juga tidak tinggal diam. Ada beberapa dari mereka yang membuat produk yang sangat mirip dengan hasil produksi Ibu Ani, mulai dari bentuk produk, tekstur, hingga kemasan dan mereknya. Mereka menjual dengan harga lebih murah. Ibu Ani tadinya khawatir strategi para pesaing ini akan merusak produk dan harga pasar, tetapi akhirnya ia yakin bahwa dengan kualitas produk yang ditawarkannya, pembeli akan mau membayar sedikit lebih mahal untuk rasa yang lebih enak.

Begitulah, rasa yang enak merupakan keunggulan Sagun Bakar produksi Ibu Ani. Mati-matian Ibu Ani mempertahankan komposisi dan rasa ini agar produknya bisa terus bersaing, walaupun banyak berdatangan merek-merek baru, yang terkadang datang dengan harga lebih murah. Untuk lebih menjaga kualitas dan agar produknya gampang diingat, ia juga membuat merek produknya: Allantaque.

Momentum kemajuan itu terjadi saat ia memenangkan Gugus Kendali Mutu bagi pengusaha kecil dan menengah dari seluruh kabupaten di Sumatera Barat. Prestasi ini, selain membuat produknya semakin dikenal, juga menjadi dorongan bagi seluruh karyawan untuk mempertahankan kualitas produknya semakin baik.

Perjuangan panjang itu akhirnya memang membuahkan hasil. Sekarang ini, Ibu Ani mempunyai 6 karyawan, yang akan ditambah lagi menjadi 10 karyawan dalam waktu dekat. Permintaan kue memang semakin hari semakin meningkat dari berbagai toko di sekitar Sumatera Barat (Bukittinggi, Agam, Payakumbuh, dan tentu saja Padang). Selain itu, ia juga menangani pemesanan dari Pekanbaru, Jakarta, Kalimantan, bahkan hingga Malaysia.

Dari usaha kue ini juga Ibu Ani berhasil menguliahkan 4 anaknya. Satu di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, lainnya di Universitas Indonesia, STMB Telkom, dan Universitas Pasundan Bandung. Satu anaknya lagi masih sekolah di SMA. Ia bersyukur bahwa usaha dan kerja kerasnya sekarang ini sudah mendapatkan hasilnya. Namun, tentu saja tidak berhenti sampai di sini, Ibu Ani masih mempunyai impian-impian tinggi untuk memajukan usaha kuenya di masa mendatang.

Jadi, kalau melihat produk Kue Sagun Bakar yang diproduksi Ibu Ani mungkin terlihat remeh dan kecil. Tetapi jika hal-hal kecil itu dijumlahkan dengan ratusan toko yang ada di Sumatera Barat dan sekitarnya, bisnis ini tidaklah lagi menjadi bisnis kecil. Jangan anggap remeh, bisnis yang “terlihat kecil dan remeh” di sekitar kita.

Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s