Kesuksesan Berawal Dari Usaha Tenun

tenunKemauan untuk berwirausaha di kalangan wanita agaknya cukup besar, termasuk wanita yang tinggal di wilayah perdesaan melalui pengembangan potensi yang ada di kawasan setempat. Hal itu dapat dicontohkan dengan apa yang dilakukan oleh Cholifah dari Desa Jambu, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.Wanita yang tidak bisa diam itu kini mengelola usaha produksi sarung tenun berorientasi ekspor. Usaha tersebut dimulai dari menjual sarung door to door di Kota Gresik dan Surabaya selama 8 tahun. Dia mengambil produk dari sentra industri sarung tenun di Kec. Cerme.

Sesudah mengetahui ceruk pasar, maka dia memberanikan diri mendirikan industri kecil sarung tenun yang lazim.

Lingkungan tempat tinggal Cholifah memang cukup kondusif untuk mendirikan industri tenun, mengingat sejak puluhan tahun lalu wilayah tersebut telah dikenal sebagai sentra sarung tenun yang lazim menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Perkembangan industri tenun di Kab. Gresik berbarengan dengan industri sejenis di Kab. Lamongan, di mana letak kedua kabupaten bersebelahan.

Sampai kini pun industri sarung tenun di kawasan tersebut masih bertahan, di tengah besarnya daya serap produk sarung di pasar domestik maupun ekspor, terutama negara-negara Timur Tengah.

Prinsip yang diterapkan Cholifah adalah tidak mau menganggur, meskipun telah memiliki suami bergaji lumayan yang bekerja di sebuah BUMN di Kota Gresik.

“Dulu selama 1992 – 2000 saya berjualan produk sarung door to door juga karena tidak mau menganggur, selain tentunya untuk mendapatkan tambahan penghasilan,” ujar Cholifah, yang kini memiliki tiga putra.

Produk sarung yang dijajakan itu buatan sejumlah produsen di beberapa desa di Kec. Cerme serta dari Kec. Sekaran di Kab. Lamongan. Motifnya pun aneka ragam yang dibuat dari bahan baku benang katun, mercerised dan sutra.

“Meskipun hamil, saya tetap berjualan sarung hingga Surabaya, apalagi sesudah memiliki sejumlah pelanggan antara lain pedagang yang biasa mengekspor produk sarung ke negara-negara Timur Tengah,” tambahnya.

Cholifah merasa memiliki keberanian untuk mendirikan pabrik sarung yang diawali satu unit ATBM pada 2000, kemudian kini berkembang menjadi 150 unit dengan bendera UD Ahida. Pekerjanya direkrut dari pekerja yang telah di-PHK produsen lain di Cerme.

Adapun modal yang digunakan berasal dari dana sendiri yakni uang yang semula akan dibelikan mobil oleh suaminya, tetapi Cholifah lupa berapa nilainya. Yang jelas, rencana memiliki mobil terpaksa ditunda.

“Sebetulnya ilmu saya tentang teknis memproduksi sarung waktu itu masih minim, maka sambil jalan saya menimba pengetahuan dari produsen lain. Dorongan untuk memiliki usaha sendiri begitu kuat,” papar wanita berkacamata itu.

Proses memproduksi sarung mencapai 15 tahap mulai dari pewarnaan bahan baku benang hingga penenunan. Sesudah rampung menjadi sarung pun masih disetrika dan dilipat hingga halus untuk disetorkan ke pembeli (umumnya pedagang perantara di Surabaya). Produk sarung asal Gresik terdiri dari motif kembang serta palekat sesuai dengan pesanan.

Harga jualnya ditentukan oleh bahan baku benang. Untuk sarung berbahan benang mercerised Rp1,6 juta per kodi (1 kodi = 20 lembar). Selain itu, benang sutra Rp3 juta – Rp3,3 juta per kodi.

Cholifah mengaku kegiatan usaha sarung mengalami pasang surut, karena permintaan pasar fluktuatif. Kecuali menjelang Ramadan hingga Idulfitri permintaan tinggi.

Sering kali puluhan kodi produk sarung menumpuk akibat lemahnya permintaan, sehingga uang mandek. Namun di lain waktu, volume pesanan cukup besar, maka kegiatan produksinya dikebut. Sementara volume produksi Cholifah sedikitnya 100 kodi per bulan.

Sebagian besar produk sarung tenun asal Jatim diekspor ke negara-negara Timur Tengah melalui pihak ketiga di kawasan Sasak, Surabaya.

Perkembangan usaha Cholifah tidak terlepas dari dukungan permodalan dari PT Petrokimia Gresik (Persero). BUMN industri pupuk itu mengucurkan dana pinjaman lunak melalui program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL).

“Saya dulu mengakses dana pinjaman ke Petrokimia Gresik senilai Rp15 juta yang dikembalikan dalam jangka 2 tahun, dengan bunga 0,5% per bulan. Tahun lalu pinjam lagi Rp100 juta,” ungkap Cholifah.

Dana investasi industri kecil sarung tenun ATBM terbesar untuk pengadaan bahan baku benang serta peralatannya. Sebagai contoh, satu unit ATBM lengkap dengan isi benangnya senilai Rp1,7 juta.

Menurut dia, problem serius yang akhir-akhir ini dihadapi produsen sarung ATBM adalah kurangnya tenaga kerja. Soalnya, kalangan muda lebih memilih kerja di kota atau di pabrik-pabrik skala besar. Padahal, kerja di industri kecil sarung tenun juga bisa mendapatkan upah setara dengan upah minimum kabupaten (UMK).

Seorang penenun bisa memproduksi selembar sarung dengan ongkos Rp30.000 per lembar. Ongkos lebih tinggi lagi jika sarungnya berbahan baku benang sutra, sedangkan pekerja di bagian nonpenenunan ada hitungan upah yang lain.

Para pekerja di sektor industri kecil sarung tenun lazim diberikan upah seminggu sekali pada akhir pekan. Cholifah menjelaskan para pekerja sarung tenun kini rata-rata berumur setengah baya, yang bekerja di sela-sela kegiatan bertani.

Sumber : http://www.ciputraentrepreneurship.com

One thought on “Kesuksesan Berawal Dari Usaha Tenun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s